MAJENE — Puluhan siswa kelas IV SD Negeri 51 Galung Paara, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, mengikuti pembelajaran kontekstual dengan mengunjungi Museum Mandar di Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kamis, 7 Mei 2026. Kegiatan itu menjadi bagian dari penerapan pendekatan deep learning pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) bertema “Cerita Tentang Daerahku: Peninggalan Sejarah di Indonesia”.
Guru wali kelas IV, Nurlinah, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan mengenalkan peninggalan budaya Mandar kepada siswa secara langsung. Melalui metode itu, murid diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran dari buku, tetapi juga mengetahui pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya daerah.
“Anak-anak dapat melihat langsung benda-benda bersejarah sehingga lebih mudah memahami nilai budaya yang harus dilestarikan,” kata Nurlinah dalam keterangan yang diterima, Kamis.
Selama berada di museum, siswa didampingi guru dan petugas museum untuk mengenal berbagai koleksi peninggalan budaya Mandar. Para siswa tampak antusias mengikuti penjelasan dan mencatat informasi yang diperoleh selama kunjungan berlangsung.
Menurut Nurlinah, kegiatan tersebut telah dirancang sebelumnya melalui koordinasi dengan pihak sekolah. Setelah mendapat persetujuan, guru menyusun jadwal dan langkah pembelajaran agar kegiatan lapangan tetap selaras dengan tujuan pembelajaran di kelas.
Kepala SD Negeri 51 Galung Paara, Imran Saidi, mengapresiasi inisiatif guru dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Ia menilai peran guru saat ini tidak hanya sebatas mengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu menciptakan lingkungan belajar sesuai kebutuhan siswa.
“Pembelajaran kontekstual seperti ini penting agar siswa lebih aktif dan mudah memahami materi,” ujarnya.
(Bahar)

