Parepare, TARGETTUNTAS.ID — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Parepare melaksanakan kegiatan Bawaslu Menyapa Gen Z dengan tema “Pelajar Siaga Demokrasi” di Ruang Vokasi SMKN 3 Kota Parepare, Rabu 11 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar kelas XII sebagai bagian dari upaya peningkatan pemahaman nilai-nilai demokrasi sejak dini.
Kegiatan dibuka oleh Anggota Bawaslu Kota Parepare, Dr. Susilawati. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa demokrasi bukan lagi hal baru bagi para pelajar, mengingat sebagian besar telah menjadi peserta demokrasi pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2024.
“Demokrasi bukan lagi menjadi hal yang baru bagi adik-adik, karena sudah menjadi peserta demokrasi khususnya pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2024. Bawaslu hadir untuk mensosialisasikan sejauh mana kita sebagai pelajar dapat berkontribusi dalam pemilihan, serta mengajak menjadi pengawas partisipatif yang aktif sebagai pemilih pemula pada pemilu dan pemilihan mendatang,” ujar Dr. Susilawati.
Dalam pemaparan materinya, Dr. Susilawati menjelaskan sejarah terbentuknya pengawasan pemilu di Indonesia, asas-asas pemilu yang meliputi langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (LUBER JURDIL), serta lembaga penyelenggara pemilu yang terdiri dari KPU, Bawaslu, dan DKPP. Ia juga menguraikan tugas dan fungsi Bawaslu serta keanggotaan Bawaslu sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017.
Selain itu, disampaikan pula data pemilih pemula atau Gen Z yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah demokrasi ke depan. Bawaslu juga memaparkan berbagai upaya pencegahan pelanggaran, seperti identifikasi kerawanan, pendidikan pengawas partisipatif, pembentukan forum warga kampung pengawasan (Parmas), MoU dan PKS forum koordinasi bersama, serta publikasi melalui siaran pers dan diskusi publik.
Para pelajar juga dibekali pemahaman tentang pentingnya menjadi pemilih pemula yang cerdas, di antaranya memastikan telah terdaftar sebagai pemilih, aktif mencari dan memahami informasi terkait calon yang akan dipilih, berani melaporkan dugaan pelanggaran pemilu, serta menggunakan hak pilih dengan hadir ke TPS pada hari pemungutan suara. Materi lainnya mencakup ajakan anti-golput sebagai penentu masa depan bangsa, kewaspadaan terhadap hoaks atau berita bohong, pengawasan partisipatif berbasis digital, peran Gen Z dalam melawan politik uang, serta syarat dan waktu pelaporan pelanggaran pemilu.
Menutup pemaparannya, Dr. Susilawati menegaskan pentingnya edukasi politik sejak dini bagi generasi muda. “Edukasi politik perlu ditanamkan sejak dini. Semoga penyampaian materi ini dapat menjadi bekal dalam berdemokrasi bagi para pelajar, sehingga kelak dapat tumbuh menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan hak pilihnya,” pungkasnya.
(*)


