MAMASA – Di balik megahnya aktivitas industri di Morowali, Sulawesi Tengah, tersimpan jejak kelam dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi yang menyeret PT Katana Global Trade.
Perusahaan ini diduga kuat menjadi aktor utama yang mengeruk jatah solar rakyat di Sulawesi Barat demi mengeruk keuntungan berlipat ganda dari sektor industri.
Praktik terselubung ini memanfaatkan celah pengawasan di jalur Polewali–Mamasa (Polman). PT Katana Global diduga sengaja menyasar wilayah ini sebagai sasaran empuk untuk mengumpulkan solar subsidi secara masif dari para penimbun lokal.
Mengoperasikan 6 Armada Tangki, Diduga Dipandani Sosok “Ulla” dan “Wakkal”
Fokus operasional PT Katana Global terbongkar dari pengakuan sumber internal pada Senin (10/8/2026). Perusahaan ini disinyalir menyiagakan setidaknya enam unit armada mobil tangki biru lintas provinsi.
Rantai kejahatan ini ditengarai dikendalikan oleh seorang pemilik bernama Ulla, sementara pergerakan di lapangan dikomandoi oleh sosok bernama Wakkal.
”Iya pak, saya cukup menunggu di sini. Nanti kalau ada perintah jemput, baru saya masuk (Mamasa) mengambil dari penimbun,” ungkap sumber internal tersebut, menguraikan peran PT Katana Global sebagai penampung akhir BBM subsidi sebelum disalurkan ke kawasan industri.
Setelah solar terkumpul dari hasil pengisian jeriken malam hari di Mamasa dan sekitarnya, armada PT Katana Global langsung bergerak menembus perbatasan menuju kawasan industri Morowali—tempat di mana BBM non-subsidi seharusnya dijual dengan harga jauh lebih mahal.
Keberhasilan PT Katana Global meloloskan armada tangkinya melewati berbagai wilayah hukum diduga kuat disokong oleh dana “koordinasi” yang dirancang rapi oleh pihak manajemen.
Sopir armada menegaskan, pihak manajemen perusahaan telah mengondisikan rute perlintasan sehingga armada mereka dapat melaju tanpa hambatan berarti.
”Tidak mungkin kami berani kalau belum ada koordinasi, Pak. Begitu pun daerah-daerah yang nantinya kami lalui untuk sampai ke Morowali,” aku sang sopir. Bahkan, untuk urusan cegatan rutin di jalan raya, para sopir dibekali uang pelicin hingga puluhan ribu rupiah untuk oknum petugas.
Saat dikonfirmasi mengenai margin keuntungan dan besaran dana pengondisian yang disiapkan PT Katana Global, sang driver menyerahkan sepenuhnya pada pihak eksekutif perusahaan. “Untuk harga BBM subsidi yang diambil dari penampungan dan uang koordinasi, itu bos yang atur, Pak,” pungkasnya.
Redaksi masih terus berupaya meminta klarifikasi resmi dari manajemen PT Katana Global, termasuk Ulla dan Wakkal, serta aparat penegak hukum terkait keterlibatan perusahaan ini dalam dugaan kejahatan BBM bersubsidi.
(Bersambung)


