Makassar — Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas), Andi Amran Sulaiman, tidak sekadar memberikan sambutan dalam Musyawarah Besar (Mubes) IKA Unhas yang digelar di Hotel Four Points, Makassar, Sabtu (2/5/2026). Ia menyulut api semangat dengan sebuah pernyataan tegas bahwa alumni Unhas kini bukan lagi pemain regional, melainkan kekuatan yang diperhitungkan di kancah global.
Menteri Pertanian RI ini mengungkapkan rasa bangganya terhadap ekspansi IKA Unhas yang telah terbentuk di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Jepang. Namun, ia segera mengingatkan bahwa eksistensi ini harus dibarengi dengan kontribusi nyata.
“Eksistensi kita bukan sekadar seremonial, melainkan kontribusi nyata bagi kemanusiaan,” ujar Amran pada sela-sela acara siang itu.
Rekam jejak alumni, menurut Amran, telah membuktikan diri selalu hadir di garda terdepan saat bencana melanda. Buktinya, penyaluran bantuan senilai Rp15 miliar untuk Aceh serta total Rp40 miliar untuk pemulihan Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat.
Tak hanya di bidang sosial, kepercayaan negara terhadap putra-putri terbaik Unhas juga sangat besar. Banyaknya alumni yang menduduki posisi strategis di kabinet, termasuk Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan lainnya, menjadi bukti nyata.
Di sektor pangan yang ia emban, Amran membagikan kabar baik mengenai stok beras nasional yang mencapai 5 juta ton. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia, melampaui rekor tahun 1984.
“Target kita, di tahun 2025 nanti, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor. Kami memegang teguh prinsip ‘Sekali layar terkembang, pantang surut biduk ke pantai’,” tegasnya.
Lebih dari sekadar pangan, Amran memaparkan strategi kemandirian energi melalui program B50 (campuran minyak sawit) untuk menghentikan impor solar per 1 Juli, serta pengembangan bensin sawit atau “Benwit” yang merupakan hasil kerja sama dengan pakar perguruan tinggi.
Secara khusus, ia mendorong Universitas Hasanuddin untuk terus berinovasi dan tidak cepat puas.
“Tekanan yang keras akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Tekanan berlian itu 3.500 derajat Celcius. Tidak ada orang sukses tanpa kerja keras,” katanya di hadapan rektor, para dekan, serta ketua IKA Unhas wilayah dan fakultas.
Menutup sambutannya, Amran menekankan pentingnya hilirisasi sebagai kunci masa depan bangsa. Dengan anggaran ambisius mencapai Rp440 triliun hingga 2029, hilirisasi di sektor mineral dan pertanian diproyeksikan membuka 6 juta lapangan kerja.
Ia mencontohkan potensi kelapa di Sulawesi Selatan yang jika diolah menjadi VCO (Virgin Coconut Oil), nilai ekspornya bisa melonjak dari Rp24 triliun menjadi Rp2.400 triliun.
“Indonesia adalah negeri yang kaya dan subur. Saya mengajak alumni Unhas dan generasi milenial untuk bergerak bersama mewujudkan potensi besar ini,” pungkasnya.
Mubes ini pun menjadi momentum penguatan sinergi antaralumni untuk mendukung Unhas menjadi universitas terdepan di Indonesia melalui kolaborasi, riset, dan aksi nyata bagi bangsa.
(*)


