Majene, Rabu 17 Juni 2026 – Awak media melakukan wawancara langsung dengan Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Majene, Hj. Nahdlah B. Fattah, S.H. yang didampingi Kepala Bidang Perdagangan Muh. Ihsan, di ruang rapat kantor Dinas setempat yang beralamat di Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene.
Dalam wawancara tersebut disampaikan bahwa Pasar Rakyat yang kini berubah nama menjadi Pasar Oleh-Oleh Lembang telah berdiri sejak tahun 2000, saat peresmian pertamanya dipimpin oleh almarhum Bapak Fahmi. Pasar ini memiliki fasilitas sebanyak 64 unit los dan 64 unit kios, yang seluruhnya sudah terisi dan tercatat nama penghuninya. Secara administrasi, pembayaran sewa tempat juga berjalan lancar sesuai ketentuan yang berlaku.
Meskipun tertib secara administrasi, kondisi di lapangan menunjukkan aktivitas perdagangan yang sangat sepi dan nyaris tidak ada transaksi jual beli. Banyak penghuni yang tetap membayar sewa namun enggan datang dan membuka lapak secara langsung. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari pergeseran pola belanja masyarakat yang beralih ke transaksi daring, keterbatasan biaya operasional, hingga minimnya fasilitas penunjang yang memadai.
Hanya bagian belakang pasar yang masih berfungsi aktif, terutama dimanfaatkan sebagai kafe dan tempat usaha makanan. Sedangkan bagian depan banyak tertutup rapat dan hanya dibuka sewaktu-waktu. Sebagian dikelola oleh pemegang kunci bernama Khairudin dan pedagang cenderamata; tempat ini baru dibuka jika ada kebutuhan dan ketersediaan dana operasional, sehingga sering terlihat kosong dari luar. Perlu diketahui bahwa bangunan di pinggir jalan yang dikelola Khairudin bukan bagian dari pasar, melainkan bekas posko jaga terminal yang berada di bawah pengelolaan instansi terkait.
Menyikapi kondisi tersebut, Hj. Nahdlah menyampaikan telah melaporkan situasi pasar secara langsung kepada Bupati dalam pertemuan pada Selasa malam. Dalam laporannya dijelaskan bahwa menghidupkan kembali pasar membutuhkan proses dan dukungan fasilitas secara bertahap. Beberapa usulan strategis telah diajukan, antara lain pembangunan dua unit toilet terpisah untuk laki-laki dan perempuan yang dimasukkan dalam rencana anggaran tahun 2027, serta penyediaan panggung hiburan sebagai daya tarik utama.
“Pasar ini butuh daya tarik tambahan. Kalau sudah ada panggung hiburan, nanti komunitas mahasiswa, kelompok seni, dan sanggar budaya bisa tampil di sini. Ini akan membuat tempat jadi ramai dan hidup kembali,” ungkapnya.
Sebagai langkah awal, telah ditempatkan Sekretariat Dewan Kerajinan Nasional Daerah di lokasi pasar. Kehadiran sekretariat ini berfungsi mengatur kunjungan tamu dari luar daerah, rombongan DPRD, serta pejabat dan instansi pemerintah. Melalui surat edaran yang dikeluarkan Bupati, seluruh OPD diarahkan untuk membawa tamu berkunjung ke pasar ini guna melihat dan membeli produk khas daerah Majene. Langkah ini perlahan mulai memunculkan transaksi jual beli kembali. Selain itu, ruang kerja khusus juga disediakan bagi pengrajin, salah satunya atas nama Sosok Pagi, agar dapat membuat sekaligus memamerkan hasil kerajinan tangannya secara langsung di hadapan pengunjung.
Pihak pengelola juga telah melakukan pembinaan tegas dengan menggelar dua kali rapat bersama seluruh penyewa, baik di kantor dinas maupun langsung di lokasi pasar. Dalam pertemuan tersebut ditegaskan bahwa setiap penyewa wajib memanfaatkan tempatnya untuk berdagang, bukan hanya membayar sewa namun membiarkan tempatnya kosong. Bagi yang tidak lagi berminat atau mampu mengelola, diminta mengajukan surat pernyataan pelepasan hak agar tempat dapat diserahkan kepada pihak lain yang lebih membutuhkan.
Selain masalah sepinya aktivitas, ditemukan pula pelanggaran penggunaan fasilitas. Beberapa kios di bagian depan terlihat digunakan untuk keperluan tinggal, bermalam, bahkan menjemur pakaian yang tidak sesuai fungsi perdagangan. Sementara masalah kebersihan terus menjadi perhatian; meskipun sudah dibagi tugas kewajiban kepada setiap penyewa dan dilakukan kerja bakti secara rutin, pengawasan tetap diperketat agar lingkungan pasar tetap bersih dan layak dikunjungi.
Dengan adanya perbaikan fasilitas, pengaturan kunjungan, serta penegasan aturan kepada penyewa, diharapkan mulai tahun depan Pasar Oleh-Oleh Lembang dapat kembali hidup, ramai dikunjungi, dan berfungsi optimal sebagai pusat perdagangan, tempat wisata belanja, serta sarana promosi produk unggulan daerah yang bermanfaat bagi perekonomian masyarakat Kabupaten Majene.
Laporan:Bahar


