MAJENE — Pemerintah Kabupaten Majene bersama Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat menggelar kegiatan Ritual Syaratakan dan Ziarah Makam Leluhur di kawasan Lingkungan Salabose, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Senin (24/8/2026). Kegiatan yang telah menjadi tradisi turun-temurun selama lebih dari 400 tahun ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan, pelestarian sejarah, serta ungkapan syukur menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan berlangsung khidmat mengikuti susunan acara yang telah disiapkan. Diawali dengan pembukaan oleh Pembawa Acara (MC) Muhammad Subhan, seluruh hadirin bersama-sama membaca Basmalah sebagai tanda dimulainya kegiatan secara resmi. Selanjutnya, Drs. Muhammad Gaus, M.M. selaku Ketua Panitia kegiatan menyampaikan laporan sekaligus memaparkan sinopsis singkat sejarah dan nilai penting dari beberapa makam leluhur yang akan diziarahi.
Dalam laporannya, Muhammad Gaus menjelaskan bahwa ziarah makam leluhur sebelum memasuki puncak peringatan Maulid Nabi merupakan bagian tak terpisahkan dari adat istiadat masyarakat Mandar di Salabose.
“Salabose menyimpan banyak situs sejarah — di sinilah dimakamkan para tokoh pembawa Islam, para pemimpin kerajaan, serta tokoh masyarakat yang berjasa besar. Berkat perjuangan dan pengabdian beliau-beliau inilah, kita hari ini dapat hidup dalam keimanan dan ketertiban sosial. Mengadakan ritual syaratakan dan ziarah ini adalah bentuk syukur kita kepada Allah sekaligus penghormatan dan permohonan restu kepada para leluhur, agar seluruh rangkaian peringatan Maulid Nabi yang akan kita laksanakan esok hari mendapat keberkahan dan kelancaran,” ungkapnya.
Tokoh pertama yang diziarahi adalah Syekh Abdul Mannan — ulama pembawa ajaran Islam ke wilayah tanah Mandar. Beliau adalah sosok yang membawa cahaya Islam sehingga masyarakat Salabose dan sekitarnya menerima ajaran agama yang kini dianut sebagai pedoman hidup menuju keselamatan dunia akhirat.
Tokoh berikutnya dalam sejarah Salabose adalah Tomakaka Poralle, pemimpin pertama yang meletakkan dasar pemerintahan di kawasan tersebut. Sejarah mencatat, sebelum terbentuknya Kerajaan Banggae, telah berdiri Kerajaan Ponaleh Talakosi. Tomakaka Poralle menerima kedatangan seorang tokoh dari Timur yang dikenal dengan sebutan Kepulipuli di Mata Allah — sebagian sumber menyebutkan berasal dari Majapahit, sementara sumber lain menduga dari Kerajaan Gowa-Tallo. Kedatangan beliau membawa misi kebaikan yang dirangkum dalam falsafah Mandar: “Mampia Ditahu, Mampia Ditita” (saling menghormati dan menyatukan kebaikan). Tokoh tersebut kemudian dinikahkan dengan Putri Merrupa Bulawang, putri penguasa setempat, dan melahirkan dua putra penerus kerajaan: Salabose dan Imam Kaitan — dua nama yang menjadi cikal bakal sejarah Salabose hingga kini.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat, Bau Akram Dai, S.E., M.Si., yang menekankan pentingnya menjaga situs bersejarah sebagai aset budaya daerah sekaligus mengembangkannya sebagai daya tarik wisata religi dan sejarah. Sambutan kedua disampaikan oleh Drs. H. Mustamin, Asisten I Kabupaten Majene, mewakili Bupati Majene H. Andi Achmad Syukri Tammalele, S.E., M.M., yang mengapresiasi pelestarian tradisi ini sebagai wujud nyata kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap warisan leluhur.
Inti acara berlangsung khidmat saat Prosesi Ritual Ziarah Makam dipimpin oleh Imam Lingkungan Salabose, Muhammad Akil. Seluruh peserta mengikuti prosesi sesuai tata cara adat Mandar, dilanjutkan dengan pelantunan sholawat dan taslim kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Pembacaan doa bersama dipimpin oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene, Dr. H. M. Sahlan, S.Ag., M.AP., sebagai bentuk permohonan rahmat dan keberkahan bagi para leluhur yang telah berjasa meletakkan dasar agama dan peradaban di tanah Mandar.
Sesuai susunan acara, setelah istirahat dan penutup sesi di masjid, rombongan ziarah bergerak menuju makam-makam berikutnya mengikuti rute perjalanan yang disampaikan MC:
1. Makam Syekh Abdul Mannan — terletak sekitar 500 meter di sebelah utara Masjid.
2. Makam Merrupa-Rupa Bulawang — sekitar 100 meter di sebelah utara Masjid.
3. Makam Tomatindo di Masiqi (I Moro) — berada di sebelah barat Masjid Syekh Abdul Mannan.
4. Makam Raja-Raja Banggae — di kawasan Kampung Banggae, sekitar 500 meter di sebelah selatan Masjid Syekh Abdul Mannan.
Kegiatan ziarah ditutup setelah seluruh prosesi di makam raja-raja Banggae selesai dilaksanakan.
Berikut para pejabat dan tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut:
1. Drs. H. Mustamin — Asisten I Kabupaten Majene
2. Kapten Inf Usman Kardi — Pasi Pers Kodim 1401/Majene
3. H. Mandy Abram, S.H. — Kasubag Bin Kejari Majene
4. Iptu Kardun — Kasat Binmas Polres Majene
5. H. M. Sahlan — Kepala Kementerian Agama Kabupaten Majene
6. H. Ahmad Yusuf — Ka. Seksi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Majene
7. H. Muhammad Syamsuri, S.Pd., M.Si. — Sekretaris Panitia Maulid
8. Para Tokoh Agama Kelurahan Pangali-Ali
9. Para Tokoh Masyarakat Lingkungan Poralle Salabose
Tradisi ziarah makam leluhur ini telah dilaksanakan secara terus-menerus oleh masyarakat Salabose selama lebih dari empat abad. Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, kegiatan ini semakin diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, sehingga nilai sejarah, spiritual, dan budayanya tetap terjaga dan dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka resmi rangkaian peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW tingkat Lingkungan Salabose, Kabupaten Majene, yang puncaknya akan dilaksanakan pada Selasa (25/8/2026).
Pelaporan: Bahar


