MAJENE – Rasa kecewa mendalam dirasakan Ahmad Nafis, siswa berprestasi di SD Negeri 11 Karema, Kecamatan Tamerodo, Kabupaten Majene. Ia memutuskan untuk tidak mengikuti rangkaian kegiatan penamatan siswa kelas VI yang dihadiri langsung oleh Bupati Majene, meskipun ia telah menyewa seekor kuda untuk mengikuti atraksi budaya Sayyang Pattuqduq.
Menurut keterangan keluarga, Ahmad Nafis dikenal sebagai murid yang konsisten berprestasi. Sejak duduk di kelas III hingga kelas V, ia selalu menduduki peringkat kedua di kelas. Bahkan, ia sering dipercaya sekolah untuk mewakili dalam berbagai perlombaan dan kegiatan akademik maupun non-akademik.
Namun hasil yang didapatkan di akhir masa pendidikannya justru terasa sangat berbeda. Setelah mengikuti kegiatan perkemahan dan menjelang pengumuman kelulusan, posisi Nafis disebut merosot tajam hingga berada di peringkat bawah kelas. Perubahan drastis ini menimbulkan pertanyaan besar bagi keluarga dan warga sekitar.
Muncul dugaan di masyarakat bahwa proses penilaian tersebut tidak berjalan secara transparan. Hal ini diperkuat dengan informasi bahwa siswa yang dinobatkan menduduki peringkat terbaik diketahui memiliki hubungan keluarga dengan salah satu pihak di lingkungan sekolah.
Kekecewaan itu membuat Nafis menarik diri dari kegiatan penamatan massal. Padahal acara tersebut dirangkaikan dengan tradisi Sayyang Pattuqduq — pawai berkuda khas budaya Mandar yang menjadi simbol kebanggaan dan kehormatan bagi siswa yang baru menyelesaikan pendidikan dasarnya. Bahkan, ia sudah menyewa kuda untuk mengikuti atraksi tersebut.
Lebih lanjut, karena rasa kecewa itu, Ahmad Nafis dikabarkan mendaftarkan diri untuk mengikuti acara penamatan di sekolah lain yang berada di wilayah Poniang, yang rencananya dilaksanakan pada tanggal 20 Juni mendatang.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena menyangkut prinsip dasar pendidikan, yaitu keadilan, objektivitas, dan keterbukaan dalam memberikan penilaian dan penghargaan kepada siswa.
“Kami tidak bermaksud menyudutkan pihak sekolah, tetapi sangat mengharapkan adanya penjelasan dan transparansi agar persoalan ini tidak berkembang menjadi polemik yang berkepanjangan,” ujar salah satu perwakilan keluarga Ahmad Nafis.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya untuk meminta tanggapan dan klarifikasi resmi dari pihak sekolah belum mendapatkan jawaban. Konfirmasi terus dilakukan guna mendapatkan penjelasan yang berimbang dan akurat terkait permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat ini.
Foto: Ahmad Nafis saat mengikuti lomba literasi
Laporan Bahar


