Mamasa, TARGETTUNTAS.ID – Kondisi jalan poros yang menghubungkan Desa Pamoseang Pangga – Desa Uhaidao, Kecamatan Aralle, kian memprihatinkan. Namun ironisnya, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi terkesan abai dan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat di wilayah terpencil tersebut.
Desa Pamoseang Pangga merupakan salah satu desa terisolir di Kecamatan Aralle. Berdasarkan fakta di lapangan, kondisi jalan di desa ini sudah tidak layak dilalui, rusak parah, berlumpur, dan nyaris tak tersentuh pembangunan. Bahkan baru-baru ini, publik dikejutkan dengan viral seorang warga sakit yang harus ditandu sejauh kurang lebih 10 kilometer demi mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas, lantaran kendaraan tidak mampu melewati akses jalan yang rusak berat.
Situasi ini memantik kemarahan pemuda dan masyarakat setempat. Riskul Tona’, salah satu pemuda Desa Ralleanak Utara, melontarkan kritik keras kepada Pemerintah Kabupaten Mamasa dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat yang dinilai gagal menjalankan tanggung jawabnya dalam pemerataan pembangunan infrastruktur.
“Setiap menjelang Pileg dan Pilkada, masyarakat hanya disuguhi janji-janji manis. Tapi setelah pesta demokrasi usai, Desa Pamoseang Pangga kembali dilupakan,” tegas Riskul.
Ia menilai, ketimpangan pembangunan sangat nyata. Desa-desa tetangga telah menikmati jalan beraspal dan beton, sementara jalan poros Pamoseang Pangga tetap rusak dari tahun ke tahun, tanpa sentuhan serius dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.
“Ini bukan soal permintaan berlebihan. Ini soal hak dasar masyarakat. Akses jalan adalah urat nadi ekonomi, kesehatan, dan pendidikan,” tambahnya.
Riskul juga menyoroti fakta pahit bahwa 80 tahun Indonesia merdeka dan 23 tahun Kabupaten Mamasa berdiri, namun masyarakat Desa Pamoseang Pangga masih harus merasakan penderitaan akibat buruknya infrastruktur.
Olehnya itu, masyarakat dengan tegas menuntut Pemda Mamasa dan Pemprov Sulbar segera menganggarkan dan merealisasikan pembangunan Jalan Poros Desa Pamoseang Pangga, Kecamatan Aralle, bukan sekadar janji politik yang terus diulang setiap musim pemilihan.
Jika pemerintah terus diam, maka wajar bila publik mempertanyakan: apakah masyarakat Pamoseang Pangga masih bagian dari wilayah yang layak diperjuangkan oleh negara?
(Vikk)


