MAJENE – Pendidikan di madrasah tak hanya berfokus pada prestasi akademik semata, namun juga membangun karakter utuh, kepedulian sosial, serta kesadaran tinggi menjaga lingkungan hidup. Nilai-nilai tersebut dikuatkan secara mendalam melalui kegiatan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MTsN 1 Majene, yang digelar di Wisma Yumari Majene, Selasa (15/9/2026).
Mengangkat tema Peninjauan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi pada Madrasah Tahun Anggaran 2026, kegiatan ini bertujuan membekali para pendidik agar mampu meningkatkan mutu pembelajaran yang tidak hanya berjalan baik secara teori, namun juga memberikan dampak nyata dan positif bagi peserta didik.
Dalam kesempatan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene, H. M. Sahlan, memberikan pemaparan materi penting. Ia menekankan bahwa tugas seorang guru bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan harus mampu memahami keunikan dan karakteristik masing-masing siswa.
“Setiap anak itu berbeda. Karena itu, guru harus mengenal karakter anak, memahami kebutuhannya, kemudian menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya,” ujar H. M. Sahlan. Langkah ini diharapkan membuat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak hanya menjadi teori semata, namun terasa kebermaknaannya secara nyata dalam proses belajar mengajar.
Pendidikan berbasis cinta, tambahnya, juga harus ditopang dengan keteladanan nyata dan lingkungan yang harmonis. “Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan guru secara lisan, tetapi juga mencontoh apa yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari. Oleh sebab itu, keteladanan pendidik serta dukungan lingkungan keluarga memegang peran sentral dalam pembentukan watak anak,” jelasnya. Nilai kasih sayang, empati, rasa hormat dan kepedulian harus tumbuh secara alami di madrasah maupun lingkungan rumah.
Sementara itu, terkait penerapan prinsip Ekoteologi, Kepala Kemenag Majene mendorong agar kepedulian terhadap alam tumbuh menjadi budaya yang melekat di lingkungan madrasah dan menjadi tanggung jawab bersama.
“Mencintai dan merawat lingkungan merupakan wujud tanggung jawab kita kepada Allah SWT. Biasakan anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan, merawat ciptaan semesta dan tidak merusak alam adalah bagian penting dari rasa syukur dan kasih kepada Sang Pencipta,” tegasnya. Hal ini menjadikan pendidikan madrasah utuh: mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, namun juga memiliki hati yang peka terhadap lingkungan dan sesama.
Harapannya, kedua pendekatan ini tidak berhenti sebagai konsep di atas kertas, melainkan terwujud dalam keseharian sekolah. Guru berperan sebagai penggerak utama untuk melahirkan peserta didik yang berilmu luas sekaligus berakhlak mulia, berjiwa empati, moderat, bertanggung jawab, cinta tanah air, serta peduli terhadap kelestarian alam.
Kegiatan pembinaan ini dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, H. Syamsul, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kankemenag Kab. Majene, Sipaami, Pengawas, Kepala Madrasah beserta staf MTsN 1 Majene, serta para guru sasaran binaan. Penguatan kapasitas ini menjadi bukti langkah nyata mewujudkan visi Kemenag Berdampak, agar manfaat pendidikan terasa langsung dan menyentuh peserta didik, keluarga, serta masyarakat luas.
Editor: Bahar


